Google+
Tampilkan postingan dengan label Makna Warna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makna Warna. Tampilkan semua postingan

Arya pre Gusti menjadi Warna Sudra Jaba

Arya pre-Gusti menjadi Wesya wangsa Sudra Jaba

mungkin ada yang sudah membaca babad Dalem Tarukan, dimana secara umum beliau berpesan agar sentananya tidak menggunakan nama wangsanya "pre gusti" tapi hendaknya menggunakan soroh jaba, karena itulah warnanya yang dijalankan sesungguhnya.

Hal serupa pun terjadi pada keluarga lainnya, dimana leluhurnya pre Gusti keturunannya tidak Gusti, perubahan status seperti itu telah terjadi sudah sejak lama. Sebagai contoh penulis kutip beberapa isi lontar :

Lontar Gusti Brangsinga, halaman 26 muka (26.a)

alih aksaranya: 
“ih kita sewangsaku kinabehan, ngku Hyangkasuhun kidul hana ta wakyanku ri kita mangke kita sinanggeh Arya, apan pangendanin titahku ri wekasan kita mangdadia sudra janma hana pamitangkwa ri kita aja kita lali ring kedaden apan ika ngaraning Aji, yan tan samangkana tan manggih ayu sira ri pretisentana inanggehaken kewangsan, hana juga tan inanggehaken kewangsan aja lupa kita wit sawiji samangkana samapta pawekasku”
Artinya:
hai engkau anak-anakku sekalian, aku adalah Sang Hyang Kasuhun Kidul ada pesanku terhadap dirimu sekarang engkau disebut para Arya (Gusti), karena aku akan mengubah sesuai dengan keinginanku maka keturunanmu kelak tidak akan lagi memakai gelar Arya (Gusti), engkau akan menjadi sudra (Sudra artinya tidak masih menjalankan fungsi sesuai dengan tugas orang tua atau leluhur, “Sudra bukan berarti rendah”), namun ada permintaanku kepada kamu sekalian janganlah lupa tentang asal-usulmu karena hal itu disebut Aji (Aji artinya Bapak, Aji berarti leluhur), jika kamu tidak ingat akan Kawitan sudah pasti tidak menemui kebahagiaan termasuk keturunanmu, namun ada juga keluargamu tidak akan memakai gelar itu (Gusti) namun janganlah engkau lupa asal-usulmu adalah satu, demikian sabdaku kepadamu.

Lontar Usana Jagat Bangsul, halaman 23 muka (23.a)

alih aksaranya
“…….sira sinamuakendenira Sang Prabu maring Sira para Arya sadaya wenang Sira Sang Arya angunggahaken wong sor dening Sira witing Ksatria kula, marianganggehakna aja ngaku Arya nging elingakna kaluhuranta wit sangkyeng para Arya……………..”
Artinya:
……tersebutlah Sang prabu memberikan wejangan kepada seluruh Arya, boleh kamu nanti tidak masih menggunakan wangsa ke Aryan, dan boleh menggunakan sebutan di bawahnya itu (wong sor) sekarang dari seluruhnya kamu ini janganlah masih menyebut diri Gusti namun ingatlah orang tuamu turunan para Arya...

Lontar Purana Bali, halaman 45,

alih aksaranya:
“……..saduk isaka 1817 Sira Pamangku Pura Purusada turunanira Ki Gusti Celuk tan masih inanggehaken Gusti mangkana sodanku Cokorde Mangwi apa matangia mangkana apan sira trehan Celuk mandadia sendianing Pura Purusada, nyadpada linggan Ida, twi mangkana uttama sira apan kita wolih angaturi pangayubhagia jastasmat sidimandi………….”
Artinya :
…….pada tahun isaka 1817 atau 1895 masehi keluarga besar Pamangku Pura Purusada yang merupakan keturunan Ki Gusti Celuk tidak masih menggunakan istilah Gusti demikian perintah Cokorda Mangwi, apakah sebabnya demikian karena trehan Ki Gusti Celuk menjadi sendianing Pura Purusada (orang yang dipercaya sebagai sumbu Bhatara terhadap linggih Bhatara di Pura Purusada), walapun demikian engkau tetap tergolong orang uttama karena engkau aku beri tugas menghaturkan upacara di Pura itu demikian titahku
jadi patutkah kita menghina soroh JABA, karena mereka sejatinya adalah saudara kita juga, tetapi karena keputusannya menekuti WARNA sudra dan wesya wangsa? ingatlah kawaitan/leluhur, maka kita ingat dengan tali persaudaraan kita. om tat sat - tat twam asi.

Dewata Nawa Sanga - Penguasa 9 Penjuru Mata Angin

Dewata Nawa Sanga

Penguasa 9 Penjuru Mata Angin

Dewata Nawa Sanga tidak sama dengan Sang Hyang Widh. Dewa adalah perwujudan sinar suci dari Hyang Widhi (Tuhan) yang memberikan kekuatan suci untuk kesempurnaan hidup mahluk. Dewa berasal dari bahasa Sansekerta “div” yang artinya sinar. Dewa adalah perwujudan sinar suci dari Hyang Widhi (Tuhan) yang memberikan kekuatan suci untuk kesempurnaan hidup mahluk. Dewa berasal dari bahasa Sansekerta “div” yang artinya sinar. Istilah Deva sebagai mahluk Tuhan adalah karena Deva dijadikan ( dicipta-kan ) sebagaimana dukemukakan di dalam kitab Reg Veda X. 129.6. Dengan diciptakan ini berarti Deva bukan Tuhan melainkan sebagai semua mahluk Tuhan yang lainnya pula, diciptakan untuk maksud tujuan tertentu yang mempunyai sifat hidup dan mempunyai sifat kerja ( karma ) . 

Disamping pengertian di atas, dalam Reg Veda VIII.57.2, dijelaskan pula tentang banyaknya jumlah Deva yaitu sebanyak 33 yang terdapat di tiga ( 3 ) alam ( mandala ) . Ketigapuluh tiga Deva tersebut terdiri dari 8 Vasu ( Basu ), 11 Rudra, 12 Aditya, Indra dan Prajapati.
lebih lengkapnya silahkan baca: Dewa dan Bhatara (Betara)

Berikut ini adalah nama dan makna menurut Upanishad Brihadaranyaka dan itihasa Mahabharata, Kedelapan Vasu tersebut adalah: 
  1. Agni ( dewa api - "Panas api" ), atau Anala (juga disebut Agni) yang bermakna "Hidup"
  2. Prthivi ( dewa tanah - "Bumi" ), atau Dhara yang bermakna "Dukungan"
  3. Vayu ( dewa angin - "Angin" ), atau Anila yang bermakna "Angin"
  4. Dyaus ( dewa langit - "Langit" ), atau Prabhasa yang bermakna "Bersinar fajar"
  5. Aditya ( dewa matahari - "Abadi", nama yang sangat umum untuk matahari adalah Surya ), atau Pratyƫsha yang bermakna "Pra-fajar", yaitu senja pagi, tetapi sering digunakan hanya berarti "cahaya"
  6. Savitra ( dewa antariksa - "Ruang" ), atau Ha yang bermakna "Meresapi"
  7. Chandramas ( dewa bulan - "Bulan" ), atau Soma yang bermakna "Soma-tanaman", dan nama yang sangat umum untuk bulan
  8. Nakstrani ( dewa bintang - "Bintang" ), atau Dhruva yang bermakna "Bergerak", nama Polestar
Rudra sebagai salah satu aspek Deva-deva, merupakan unsur hidup dan kehidupan yang disebut sebagai Rudra prana. Kesebelas Rudras yang mengatur alam semesta (buana agung dan buana alit), diantaranya Kapali, pingala, Bima, Virupaksha, Vilohita, Shasta, Ajapada, Abhirbudhnya, Shambu, Chanda, dan Bhava.

Catur Warna dan Profesionalisme

Catur Warna dan Profesionalisme

Caaturvarnyam mayaa srstam
Gunakarma vibhaagasaah
Tasya kartaaram api maam
Viddhy akartaaram avyayam
.(Bhagavad Gita IV.13).
Artinya: 
Catur Warna aku ciptakan berdasarna guna dan karma.
Meskipun Aku sebagai penciptanya, 
ketahuilah Aku mengatasi gerak dan perubahan.

AJARAN Catur Warna ini sesungguhnya filosofi profesionalisme menurut Hindu. Sayang ajaran yang sangat mulia dan luhur ini dikotori oleh bintik-bintik hitam sejarah masa lampau yang menjungkirbalikan secara total ajaran Catur Warna itu menjadi kasta. Hal ini membuat terpuruknya citra Hindu di mata masyarakat luas. 

Oleh karena itu dalam Pesamuan Agung PHDI, 26-29 Oktober 2002 di Mataram ini, ajaran Catur Warna itu akan dikembalikan pada fungsinya yang semula sesuai perkembangan dan tuntutan masyarakat.