Google+

Wanaprasta dan Sanyasin (bhiksuka) - Catur Asrama

Wanaprasta dan Sanyasin (bhiksuka) - Catur Asrama

Dalam masa kehidupan Wanaprstha dan Sanyasa (Bhiksuka) yang merupakan tahap akhir dari Catur Asrama, tujuan utama dari kehidupan seseorang adalah untuk mencapai kebebasan rohani yang disebut Moksha.

Kehidupan Wanaprstha merupakan persiapan awal untuk menuju moksha yaitu dengan mewariskan nilai-nilai yang positif untuk grhastin-grhastin penerus, disamping itu mempersiapkan hal-hal yang mendasar untuk menghadapi masa akhir dari hidup ini dengan harapan mendapatkan moksha.

Tahapan Wanaprastha adalah masa menjauhkan diri dari kehidupan duniawi. Sedangkan masa Sanyasa sudah berusaha melepaskan diri sama sekali dari kehidupan duniawi.

Grahasta Asrama - Catur Asrama

Grahasta Asrama - Catur Asrama

Grahasta merupakan tahapan kedua dari catur asrama artinya hidup berumah tangga, bersuami istri. 
Pada masa kehidupan Grhasta tujuan hidup diprioritaskan untuk mendapatkan Artha dan memenuhi Kama, oleh karena itu, suatu rumah tangga belum dapat dilaksanakan kalau belum siap dengan sumber Artha berupa pekerjaan yang tetap yang memberi hasil yang memadai untuk menjalankan rumah tangga. Demikian pula dengan Kama yang menyangkut dorongan hidup seperti nafsu haus, lapar dan seks. Dorongan hidup itu harus dipenuhi dengan berlandaskan Dharma. 

Kama adalah salah satu media untuk mendapatkan kebahagiaan dan jangan samapai Kama itu memperalat manusia (sang diri). Sang diri harus mampu membatasi Kama. Manusia tanpa Kama tidak dapat menikmati kebahagiaan sejati dari hidup didunia ini. Akan tetapi Kama tanpa batas dan kendali, maka keindahan dunia ini akan berbalik menjadi sumber kehancuran. 
Demikianlah "hidup dalam Grhasta Asrama, harus berlandaskan Dharma".

Anak Penyelamat Leluhur dari Siksa Neraka

Anak Penyelamat Leluhur dari Siksa Neraka

Anak atau disebut putra merupakan asset bagi orang tua dan leluhur. Anak bukan hanya bertanggungjawab atas perihal urusan kehidupan di dunia nyata bagi orang tua, tetapi ia juga memiliki tanggung jawab terhadap orang tua maupun leluhurnya. Anak memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan roh orang tua dari api neraka. Oleh karena itu anak disebut putra.

Anak keturunan merupakan kelanjutan dari kehidupan atau eksistensi keluarga. Anak dalam Bahasa Kawi disebut “Putra” asal kata dari “Put” (berarti neraka) dan “Ra” (berarti menyelamatkan). Jadi Putra artinya: “yang menyelamatkan dari neraka” (Bhagawan Dwija, 2010).

Ajaran Tintiyasana Yoga

Ajaran Tintiyasana Yoga

Tintiyasana adalah manifestasi jati diri yang agung, yang juga disebut Acintya yang berarti tak terbayangkan namun dia ada, dilihat dari sudut sifatnya. Dia ada  dimana-mana Wyapi-wyapaka. Di dalam serat Dewa Ruci atau Bima Ruci- Bima Suci di uraikan Bima manunggal dengan jati dirinya yang agung sehingga ia sadar dan memahami akan jati dirinya dan ilmu sejati. Di dalam upacara dan upakara serta bangunan-bangunan suci di Bali, khususnya di Ulon Padmasana pasti kita saksikan symbol Tintiyasana ini / ulap-ulap yang berarti keberadaan Sang Hyang Widhi di tempat itu, sehingga upacara dan bangunan suci tersebut akan selamat dan sentosa. Sana berasal dari kata sesana atau ajaran yang sering di rangkai dengan kata asana sikap duduk untuk melakukan upacara pemujaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa/ Leluhur.

Di dalam Tintiyasana kita mengambil sikap terlentang tengadah dengan lutut kanan ditekuk/setinggi lutut kiri. Dengan sikap tengadah dan menekuk lutut relaksasi  lebih mudah dapat dicapai sehingga memudahkan kita dan mempercepat menyatu dengan-Nya Brahman. Dalam keadaan tidur nyenyak kita terlepas dari keadaan dan hanya diliputi kebahagiaan Tuhan, mempersatukan diri dengan Tuhan. Itulah Brahman Rupata, keadaan itu dapat dicapai lebih-lebih lagi oleh orang yang dibebaskan. Setelah penyegaran barulah dimulai pengaturan dan pengendalian nafas/Pranayama.

Cakra Mahkota atau Sahasrara Padma (Siwadrawa)

Cakra Mahkota atau Sahasrara Padma (Siwadrawa)

merupakan cakra yang terletak di ubun-ubun kepala.

Ajna Chakra atau Mata ke tiga

Ajna Chakra atau Mata ke tiga

merupakan cakra yang terletak diantara kedua alis

pemahaman Ajna Chakra

Ajna cakra juga dinamakan paramakula dan mukta treveni, karena dari sini trinadi, yaitu Ida, Pingala, dan Sushumna berpisah menuju ke tujuan masing-masing. Ajna cakra ini seperti kembang padma yang berdaun bunga hanya dua helai, terletak di sela-sela alis mata. Di sini  tidak terdapat tattva dari Mahabhuta yang kasar itu lagi, tetapi tattva yang halus dari jiwa mulai muncul disini. Hakarardha atau setengah dari aksara La terdapat juga disini. Pada kedua helai daun bunganya itu terdapat varna merah dengan bunyi hang dan ksang.
 
Didalam sari bunganya tersembunyi vija “Ong” di semua bagian cakra ini masih bekerja Tri guna sattva, rajas dan tamas. Di dalam mandala berbentuk segitiga di dalam bunga itu terdapat linga yang bersinar-sinar (tejo-maya) dalam bentuk pranava (pranavakriti) yang disebut Itara. Para Siva dalam perwujudan bangsa (hangsa-rupa), juga disana dengan sakti Sidha-Kali. Pada tiga sudut segitiga itu berdiri Brahma, Visnu dan Maheswara. Di dalam cakra ini bersthana Hakini-Sakti yang putih, berkepala enam dan berlengan empat melakukan pose jnana-mudra, memegang tengkorak, damaru dan tasbih

Cakra Tenggorokan atau Visudha Chakra

Cakra Tenggorokan atau Visudha Chakra 

letaknya disekitar tenggorokan/leher

Pemahaman Visudha Chakra

Visudha cakra atau Bharatisthana, tempat kedudukan Devi yang menguasai ucapan, terletak pada ujung bawah kerongkongan (kanta-mula). Tattva cakra ini ialah “ether”. 

Reinkarnasi Penjelmaan Kembali (PUNARBHAWA)

Reinkarnasi Penjelmaan Kembali (PUNARBHAWA)

Kata PUNARBHAVA berasal dari bahasa Sansekerta,terdiri dari kata PUNAR dan BHAVA.
  • Punar berarti lagi,kembali.
  • Bhava berarti menjelma atau lahir.
Jadi Punarbhava berarti kelahiran yang berulang ulang yang disebut pula penitisan atau samsara. Di dalam Pustaka Suci WEDA dikatakan bahwa penjelmaan  atma atau roh yang berulang ulang samsriti kedunia ini disebut samsara. Punarbawa atau samsara ini diakibatkan oleh adanya hukum karma, dimana atma yang jelek mengakibatkan atman atau roh menjjelma kembali untuk memperbaiki perbuatan nya yang jelek itu atau atman itu masih di pengaruhi oleh karma wasana atau sisa sisa perbuatan atau juga kenikmatan duniawi sehingga tertarik untuk lahir kedunia. Kelahiran ini adalah samsara(sengsara) sebagai hukuman yang diakibatjan oleh perbuatan atau karma dimasa perbuatan terdahulu.

Sekilas tentang Wamana Purana

Sekilas tentang Wamana Purana

Siva dan Parvati

Rsi Narada suatu hari menemui rsi Pulastya dan ingin tahu tentang Vamana purana. Apapun yang diceritakan Pulastya pada Narada adalah seperti cerita berikut ini :
Siva dan Parwati tinggal di Gunung Mandara. Ketika panas matahari menyengat mereka, Parvati berkata pada Siva, “ Kita tidak mempunyai rumah. Bagaiamana kita bertahan dari sengatan matahari dan hembusan angin ?”
“ Itu tidak berarti bagi kita , “jawab Siva. “ Aku tidak memiliki rumah. Aku menghabiskan waktuku di hutan belantara .“
Siva membawa Parwati menuju sebuah pohon dan mereka menghabiskan musim panas dibawah pohon.

Ajaran YOGA dalam kehidupan sehari-hari

Ajaran YOGA dalam kehidupan sehari-hari

Kata yoga berasal dari bahasa Sanskerta “yuj”, yaitu menghubungkan atau hubungan, yakni hubungan yang harmoni dengan objek yoga. Maharsi Patanjali dalam kitabnya, Yogasutra (I:2) mendefinisikan yoga:
yogas citta vrtti nirodhah”, 
yang artinya;
mengendalikan gerak-gerik pikiran, atau cara untuk mengendalikan tingkah-polah pikiran yang cendrung liar, bias, dan lekat terpesona oleh aneka ragam objek (yang dikhayalkan) memberi nikmat.

Sekilas Sloka tentang Ketuhanan, Filsafat, Etika dan Upacara

Sekilas Sloka tentang Ketuhanan, Filsafat, Etika dan Upacara

KETUHANAN

Dalam Sarasamuscaya, 35. Menyebutkan sbb :
Ekam yadi bhavecchastram sreyo nissamcayam bhavet’ bahutvadiha sastranam guham creyah pravesitam. (Sarasamuscaya, 35).
Artinya :
Yan tunggala keta Sang Hyang Agama, tan sangcaya ngwang irikang sinanggah hayu, swargapawargaphala, akweh mara sira, kapwa dudu paksanira sowing-sowang-hetuning wulangun, tan anggah ring anggehakena, hana ring guhagahwara, sira sang hyang hayu.
Terjemahan :
Sesungguhnya hanya satu tujuan agama, mestinya tidak sangsi orang yang disebut kebenaran, yang dapat membawa ke surga atau moksa, semua menuju kepadanya, akan tetapi masing-masing berbeda caranya, disebabkan oleh kebingungan, sehingga yang tidak benar dibenarkan; ada yang menyangka,bahwa di dalam gua yang besarolah tempatnya kebenaran itu.

Kewenangan Sulinggih (Pandita)

Kewenangan Sulinggih (Pandita)

Status dan wewenang Diksa atau Sang Diksita ( Sulinggih) ada termuat di dalam beberapa pustaka agama Hindu. Di antaranya Sarassamuscaya menguraikan :
Sang apta, sanga sistacara, sang panadahan upadesa
Artinya:
kepada sulinggih ada tiga kekuatan suci pada pribadinya yaitu yang mengetahui  (berilmu tinggi), kehidupan suci dan merupakan tempat orang memperoleh kebenaran / dharma.

Rontal Bhisma Parwa menguraikan bahwa sang pandita wenang muput upakara / yadnya :
Kalinganya kantas kreta dening jnana
Artinya:
pada hakekatnya Karma Yadnya ( upakara) itu dipimpin dan diselesaikan oleh jnana  (ilmu suci keagamaan) atau yang memiliki ilmu keagamaan.

Batas Kewenangan Pinandita

Batas Kewenangan Pinandita

Pindandita yang terdiri dari Jro Mangku, Jro Gde, Wasi, Balian Sonteng adalah tergolong sebagai tingkatan “Eka Jati”. Dalam Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu XIII tahun 1986/1987 yang mengacu kepada hasil Keputusan Mahasabha Hindu Dharma Indonesia II tanggal 02 sampai dengan 05 Desember 1968 menyatakan bahwa :

Yadnya Madiksa - Rsi Yadnya

Yadnya Madiksa - Rsi Yadnya

Kata diksa adalah kata dalam bahasa Sansekerta yang artinya suatu upacara penerimaan menjadi murid dalam hal kesucian. Dari kata diksa ini muncullah kata diksita yang artinya diterima menjadi murid dalam hal kesucian. Dalam perkembangannya lebih lanjut, kata diksa berarti aksara yaitu suatu upacara penyucian diri untuk mencapai tingkatan dwijati. Diksa dalam Visnu-Yamala didefinisikan sebagai berikut :
Divyam Jnanam Yato Dadyat Kuryat Papasya Sanksayam Tasmat Dikseti Sa Prokta Desikais Tatva-Kovidaih
Artinya :
diksa adalah proses dimana seseorang dapat membangun pengetahuan rohaninya, dan menghancurkan semua reaksi  yang disebabkan oleh kegiatan  yang berdosa.
Kata dwijati (Sansekerta) berasal dari akar kata ja yang artinya lahir. Dwijati artinya lahir kedua kalinya. Lahir yang pertama adalah dari kandungan ibu dan lahir yang kedua adalah dari kaki Dang Hyang Suci yang disebut Nabe.

Janganlah menjadi Sombong

Janganlah menjadi Sombong

Gua peteng tang mada moha kesmala
Maladi yolania mageng maha wisa
Wisata sang wruh rikanang jurangkali
Kalinganing sastra suluh nika praba
(Kekawin Ramayana Sargah 3)
Terjemahan :
Kemabukan (mada), kesombongan (moha) dan perbuatan hina (kesmala) seperti gua yang gelap atau ular besar yang berbisa (berbahaya), karena itu bagi orang bijaksana dapat menyadari itu sebagai jurang yang terjal dan hendaknya ilmu pengetahuan suci (sastra) patut dipakai sebagai obor penerangan yang benderang.

Jadilah Manusia Setia

Jadilah Manusia Setia

Nāsti satyāt paro dharmo nānrtāt pātakam param
Triloke ca hi dharma syāt tasmāt satyam na lopayet
( Slokantara, sloka 3 (7) )
Terjemahan :
Tidak ada dharma (kewajiban suci) yang lebih tinggi dari kebenaran (satya), tidak ada dosa yang lebih rendah dari dusta. Dharma harus dilaksanakan diketiga dunia ini dan kebenaran harus tidak dilanggar

ULASAN
Mengenai kebenaran, Mahatma Gandhi pernah berkata, “kebenaran adalah hukum hidup kita”. (Gandhiji’s Ideas). 

Eksistensi Sekte Wais̩n̩awa di Bali

Eksistensi Sekte Wais̩n̩awa di Bali

Untuk dapat menyelusuri tentang keberadaan sekte Wais̩n̩awa di Bali, kita kembali pada Maharesi Markandya sebagai orang pertama yang datang ke Bali dan menyebarkan ajaran Hindu bagi orang-orang Bali. 
Cerita tentang Maharesi Markandya tersebut adalah demikian:

Ketika orang-orang Bali Mula belum beragama, mereka Cuma menyembah leluhur yang mereka sebut Hyang. Dari pandangan spiritual, mereka masih hampa. Oleh karenanya Pulau Bali ketika itu oleh Purana-purana Bali dikatakan masih kosong. Keadaan yang demikian itu berlangsung sampai abad ke empat sesudah masehi.

Saiwa Wisistadwaita

Saiwa Wisistadwaita

Pada abad ke-11 Masehi terdapat usaha-usaha yang dikonsentrasikan dalam menjembatani jurang yang memisahkan Saivisme dan Vaisnavaisme dengan Brahmanisme. Srikantha dan Ramanuja, adalah 2 orang sarjana besar yang mengusahakan tugas ini seperti yang ditunjukkan dalam 2 ulasan mengenai Vedanta Sutra, yaitu;
  1. Brahma-mimamsa bhasya dan
  2. Sribhasya. 
Dalam rangkaian penafsirannya tentang Pasupatadikarana, yang menurut Sankara, menyalahkan filsafat Saiwa Pasupata. Srikantha mengemukakan bahwa tak ada pertentangan antara Veda dengan Saiwagama dan keduanya sama-sama berwewenang. Keduanya telah bertindak dari sumber terakhir dari segala sesuatu, yaitu Brahman atau Para Siva, dan oleh karena itu layak untuk membicarakan Veda juga sebagai “Saiwagama”.

Sekilas tentang Dasa Aksara

Sekilas tentang Dasa Aksara

Pengembangan Kebudayaan Bali dalam sastra mempelajari semua pustaka yang mengandung berbagai ajaran ke Tuhanan dan ke Duniaan yang akan dapat memberikan kebahagiaan lahir-bathin kepada pendukungnya yaitu masyarakat Bali Khususnya.

Menurut Prof. Dr. Tjok Rai Sudharta MA, (SARAD No.36/2003) perjalanan Agama Hindu sampai di Indonesia ternyata tidak semua langsung datang atau dibawa dari India. Agama Hindu di India sendiri menyentuh Nepal, sehingga bangunan Meru yang ada disana sama dengan yang ada di Bali. Lalu meyentuh juga Tibet, sehingga sarana genta dan petanganan mudra yang dipakai Sulinggih di Bali juga dipakai di Tibet. Kemudian menuju Asia Tenggara, Cina, sampai menyeberang ke Kalimantan Timur (Kutai). Oleh karena itu ada sarana uang kepeng atau jinah bolong, dupa dan uluntaga. Itulah berbagai jenis simbul yang kini ditemukan dan dipergunakan di Bali.

Sang Jarat Karu pesan bagi Anda untuk segera menikah

Sang Jarat Karu pesan bagi Anda untuk segera menikah


Epos Mahabharata dibagi menjadi delapan belas parwa, yang dikenal dengan Astadasaparwa. Parwa-parwa tersebut merupakan prosa yang diadaptasi dari bagian epos-epos dalam bahasa Sanskerta dan juga menunjukkan ketergantungannya dengan kutipan-kutipan dari karya asli bahasa Sanskerta tersebut. Delapan belas parwa tersebut secara berurutan mulai dari: Adiparwa, Sabhapawra, Wanaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Striparwa, Santhiparwa, Anusasanaparwa, Aswamedhikaparwa, ramaparwa, Mausalaparwa, Mahaprasthanikaparwa, dan Swargarohanaparwa. Delapan belas parwa tersebut, Adiparwa merupakan parwa pertama, di dalamnya mengandung berbagai cerita, salah satunya Carita Jaratkaru yang seringkali dipakai acuan dalam kehidupan masyarakat Bali.

Carita Jaratkaru ini menjadi menarik, karena selain menjadi acuan dalam kehidupan masyarakat Bali, teks-teks parwa (prosa) semacam ini dibaca melalui sajian phalawakya, sebuah pembacaan teks dengan irama menarik (khusus), serta diikuti oleh terjemahan memakai bahasa Bali kepara (umum). Phalawakya adalah pembacaan teks-teks dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang berbentuk parwa (prosa) disertai dengan terjemahan. Pembacaan teks parwa semacam ini telah diwarisi sejak dahulu terutama dalam aktivitas keagamaan, yaitu untuk mengiringi upacara pitra yadnya yang disebut "mamutru".

Lontar Wrespati Kalpa

Lontar Wrespati Kalpa

TENUNG PEDUKUNAN WRHASPATI KALPA
Berisi : Tenung Kumara Sidi
( mantra-mantra permulaan)
bebayuhan Oton bagi Umat Manusia
Wisada (pengobatan) bisa praktekkan sendiri

Ong Awigenan mastu nama sidem.
Nihan weraspati kalpe, ngaran anut sapte ware keramania :

Yan ana oton watek Redite, dewania sang hyang Indra, Kalania Dore kale, butania catus pati, kayunia kayu putih, manuknia siyung, wayangnia panji, lintang nia tendas marereng, panes wetunia, makuwh geringnie, puruh, langu, gerrah merapah, panes tis, lesu ngibuk, tan arep mangan, kelaran, borok, edan, ngeedo-ngedo gawenie, doyan mati manakan yan luh, yanie lanang doyan mati ngamuk, nagih caru ring sanggah kemulan, suci asoroh, bebeknia tampak taluh, apan oton panes, wnang carunin, beras limang (5) catu, arte 555, benang (5) limang tukel, taluh limang besik biyu limang ijas, nyuh limang bungkul, dadi esok, sesayut adulang, mewaste kesuma jati, nasi putih, siap putih tulus sandeh sangkur, kewase mepanggang, mapecel mice genten, mesasaur sekar putih, limang katih, katur ring kamulan, toyanie limang suan, durmenggale abesik, perayascite, pengambiyan, maruntutan peras asoroh, payuk limang bungkul, ayanie dadua, wenang berahmane sulinggih ngelukat, yantan tawurakang ageng raranie.

Terjemahan dari Lontar Yama Tattwa

Terjemahan dari Lontar Yama Tattwa

ini sastra pitra yadnya yang merupakan Terjemahan dari Lontar Yama Tattwa

1b.
Semoga tidak mendapat rintangan. Tutur Yama Tatwa, yang memuat tentang pelaksanaan upacara kematian, dan bangunannya (bade) yang dipakai untuk orang mati. Mantra yang dipakai untuk pamlaspas bade (penyucian tempat pengusungan mayat): “Ya Tuhan dalam manifestasiMu sebagai Sang Hyang Ibu Pretiwi, Sang Hyang Yamadipati, Sang Hyang Rekatanah, Bagawan Sastra Walikilya, Bhagawan Wiswakarma, hamba mohon restu, ada hambaMu yang mengetahui bacaan mengenai berbagai bangunan, sebagai anugrah dari Sang Hyang Rekatanah, Bagawan Sastra Walikilya, Bagawan Wiswakarma. Ih Sang Hyang Taru Agung turunlah ke dunia, dijaga oleh Sang Hyang Ibu Pretiwi, mencari Sang Hyang Akasa, di atas melanjutkan beryoga, ditebang oleh manusiaMu, yang mendapat anugrah dari Sang Hyang Rekatanah, Bagawan